Bacharudin Jusuf Habibie adalah mantan presiden Indonesia yang ketiga. Habibie begitu pria yang dianggap jenius ini dipanggil. Beliau menjabat sebagai presiden Indonesia pasca mundurnya Soeharto menjadi presiden Indonesia kala itu sekitar tahun 1999. Habibie yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden Indonesia berhak atas jabatan yang ditinggalkan oleh Soeharto tersebut.
Masa jabatannya relatif singkat karena memang pada saat itu situasi politik di negara Indonesia kurang stabil pasca tumbangnya era orde baru ke era reofrmasi.
Baru-baru ini B.J.Habibie kembali mendapatkan sorotan media pasca adanya isu tentang pihak Malaysia yang menuding bahwa mantan presiden ketiga Indonesia tersebut sebagai seorang penghianat. Hal tersebut dituliskan oleh mantan Menteri Penerangan Malaysia yaitu Zainuddin pada sebuah tajuk rencana koran media setempat edisi 10 Desember 2012. Dalam tulisannya tersebut Zainudin menggambarkan bahwa seorang habibie adalah sosok yang egois, memualkan, serta penghianat bangsa.
Zainuddin memulai tulisannya dengan menuliskan seorang Habibie sebagai mantan Presiden Indonesia tersingat, hal ini disebabkan karena Habibie menghianati negara yang telah menjadi tamu terhormat dari Ketua umum Partai Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim.
Kemudian dilanjutkan dengan menuliskan beberapa sisi negatif dari seorang Habibie selama beliau menjabat sebagai presiden Indonesia. mulai peran Habibie yang menyebabkan Timor-Timur terlepas dari NKRI
hingga perpecahan politik yang menyebabkan tumbuhnya 48 partai politik
di Indonesia.
Kemudian Zainuddin juga menyebutkan bahwa dia muak akan sikap egois dari seorang Habibie. Pendapat tersebut adalah ketika Ia menceritakan bagaimana dirinya, pejabat tinggi Malaysia, dan Perdana
Menteri Mahathir Muhammad kala itu harus menunggu sekitar dua jam karena
Habibie terlambat datang untuk memberikan ceramah di salah satu
perguruan tinggi di Malaysia. Dan setelah tiba, ternyata Habibie hanya
menyampaikan pidato yang bertele-tele. "Ucapannya yang penuh dengan
keegoan begitu panjang sehingga ke peringkat memualkan hadirin," tulis
Zainudin.
Habibie sendiri memberikan ceramah di hadapan para mahasiswa cendekiawan dan tokoh politik atas undangan dari Universiti Selangor (Unisel) pada Kamis 6 Desember 2012 yang telah lalu. Dalam ceramahnya yang berudul "Habibie dan Transisi Indonesia ke Demokrasi" dia menjelaskan bahwa pluralisme kepercayaan, suku, adat, dan keragaman lainnya merupakan kekuatan dan bukan menjadi ancaman bangsa.